Sabtu, 06 April 2013

Historiografi Tradisional

PEMBAHASAN
 
A. Historiografi Tradisional
Penulisan sejarah tradisional dimulai dari zaman Hindu sampai masuk dan berkembangnya Islam. Penulisan sejarah pada jaman ini berpusat pada masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa, bersifat istana-sentris yang mengutamakan keinginan dan kepentingan raja. Penulisan sejarah di zaman Hindu-Buddha pada umumnya ditulis di prasasti dengan tujuan agar generasi penerus dapat mengetahui peristiwa di zaman kerajaan pada masa dulu di mana seorang raja memerintah. Penulisan sejarah (historiografi) tradisional, berlanjut sampai masa kedatangan Islam ke Indonesia. Yaitu dengan keberadan Babad, Hikayat, Silsilah atau Kronik. Sebagai contoh, Babab Tanah Jawi yang memuat cerita awal dunia. Didalamnya memuat campuran unsur-unsur mitologi.

Corak Historiografi Tradisional
1.      Mitos
Bentuk ini pada dasarnya merupakan suatu proses internalisasi dari pengalaman spiritual manusia tentang kenyataan lalu di ungkapkan melalui kisah sejarah.
2.      Genealogis
Bentuk ini merupakan gambaran mengenai pertautan antara individu dengan yang lain atau suatu generasi dengan generasi berikutnya. Silsilah sangat penting untuk melegitimasikan kedudukan mereka.
3.      Kronik
Dalam penulisan ini sudah ada penulisan kesadaran tentang waktu, Namun demikian juga masih di lingkungan kepercayaan yang bersifat teogoni dan kosmologi yang menerangkan kekuatan-kekuatan alam dan mempersonifikasikan sebagai dewa.
4.      Annals
Sebenarnya bentuk ini merupakan cabang dari kronik hanya saja bentuk annals ini sudah lebih maju dan lebih jelas, Sudah berusaha membeberkan kisah dalam uraian waktu.
5.      Supranatural
Dalam hal ini kekuatan kekuatan gaib yang tidak bisa diterima dengan akal sehat sering terdapat di dalamnya.

6.      Moral tradition
Historiografi jenis ini di sampaikan secara lisan, maka tidak dijamin keutuhan redaksionalnya.
7.      Anakronistik
Dalam menempatkan waktu sering terjadi kesalahan kesalahan, pernyataan waktu dengan fakta sejarah (kurang dapat dipercaya). Berarti sifatnya tidak kronologis.
8.      Etnosentris
Penulisan selalu bersifat kedaerahan, Hanya terpaut pada suku bangsa tertentu dan sangat berpusat pada kedaerahan.
Adapun ciri-ciri dari historiografi tradisonal adalah sebagai berikut :
·         Religio sentris, artinya segala sesuatu dipusatkan pada raja atau keluarga raja (keluarga istana), maka sering juga disebut istana sentris atau keluarga sentris atau dinasti sentris.
·         Bersifat feodalistis-aristokratis, artinya yang dibicarakan hanyalah kehidupan kaum bangsawan feodal, tidak ada sifat kerakyatannya. Historiografi tersebut tidak memuat riwayat kehidupan rakyat, tidak membicarakan segi-segi sosial dan ekonomi dari kehidupan rakyat.
·         Religio magis, artinya dihubungkan dengan kepercayaan dan hal-hal yang gaib.
·         Tidak begitu membedakan hal-hal yang khayal dan hal-hal yang nyata.
·         Tujuan penulisan sejarah tradisional untuk menghormati dan meninggikan kedudukan raja, dan nama raja, serta wibawa raja; agar supaya raja tetap dihormati, tetap dipatuhi, tetap dijunjung tinggi. Oleh karena itu banyak mitos, bahwa raja sangat sakti, raja sebagai penjelmaan/titisan dewa. Raja atau pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib dan kharisma (bertuah, sakti). 
·         Bersifat regio-sentris (kedaerahan), maka historiografi tradisional banyak dipengaruhi daerah, misalnya oleh cerita-cerita gaib atau cerita-cerita dewa di daerah tersebut.

B. Historiografi Modren
Penjelasan atas model historiografi modren adalah ketika pusat orientasi dari pembahasan atas masa-lalu (sejarah) adalah manusia. Itu kenapa kemudian salah-satu ciri dari historiografi modren adalah antroposentris. Subjek dan objek dari penulisan sejarah adalah manusia. Manusia yang menjadi poros dari geraknya sejarah kedepan dan manusia yang menjadi objek penulisan atas apa yang telah ia gerakkan dalam kehidupan di muka bumi ini.
Selain dari batasan antroposentris —yang sudah dimulai oleh Herodotus dalam karyanya Perang Parsi yang menjadikan dia bapak sejarah atau bapak historiographi— ada ciri lain yakni ia bersifat demokratis, artinya dalam penulisan sejarah pengguan pendekatan atau kecendrungan selain dari perspektif agama --seperti yang terjadi pada masa abad pertengahan atau Abad Kegelapan dalam historiografi antri-kristiani atau Abad Iman dalam historiogrphi orang orang kristiani-- juga boleh digunaka. Selain itu di dalam perkembangan historiografi modren ini kebudayaan masal lalu (klasik) sangat mendapat tempat yang besar disini. Ada sekian banyak penghargaan atas budaya masa lalu.

Namun hal yang paling terpenting dalam penulisan sejarah masa modren ini adalah mulai menggunakan metode sejarah yang sifatnya kritis dalam melihat sumber-sumber di masa-lalu. Semenjak penemuan kembali penemuan logika ilmiah yang bisa saja ditandai dengan momentum masa pencerahan dimana ilmu pengetahuan menemukan kemerdekaannya dan akal berfikir manusia mulai tampil secara mandiri yang artinya manusia sudah mulai tidak ketergantungan terhadap pengetahuan mistis dan tidak ilmiah yang dikeluarkan oleh pihak gereja sebagai kebenran tunggal. Manusia sebagai subjek pengetahuan sudah mulai percaya diri terhadap kemampuan akal dan nuraninya untuk muncul mengembalikan apa yang pernah bangsa Eropa miliki dalam kemajuan pengtahuan seperti di zaman Plato, Aristotles dan masih banyak yang lainya.

Kemudian dalam perkembangannya kontemporer ini ditemukan fenomena corak dari penulisan sejarah. Dalam situasi politik global, sejak perjalan C. Colombus mengelilingi dunia dan sejak penemuan koloni-koloni oleh bangsa barat serta secara ekonomi-politik mulai dikenal istilah  penjajahan atau kolonialisme/kolonial dan kolonialisme ini kemudian menjadi corak baru dalam penulisan sejarah kontemporer khususnya dibekas negera negara jajahan. Selain historiografi kolonial adapula anti-thesa dari historiografi kolonial yakni historiografi nasional. Historiografi ini adalah reaksi atas pengetahuan sejarah yang berkaca-mata gladak kapal koloniasentris. Artinya penjelasan yang keluar bukan lagi penjelasan yang bersifat mengagungkan kehadiran penjajah di tanah kolonial.

a)      Historiografi Kolonial.
Penejelasan atas atas istilah kolonial yang paling sederhana adalah bersifat daerah jajahan, artinya historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang berkecendrungan pemerintahan jajahan atau si penjajah. Visi yang digambarkan adalah sangat sejala tentang menonjolkan peranan pokok bangsa Asing dan memberikan tekanan secara politis, ekonomis dan institusional. Hal merupakan perkembangan secara logis dari situasi kolonial di mana penulisan sejarah terutama mewujudkan sejarah dari golongan yang dominan.

Penulisan sejarah yang kolonial seperti ini menitik beratkan kepada penjajahsentris, sehingga apapun yang pernah ditulis mengguanakan perspektif pribumisentris akan terlihat buruk dan ini kemudian kan menjadi keterbalikan ketika sejarah di lihat dari perspektif pribumisentris. Sebagai contoh atas penjelasan di atas adalah bagai mana kita melihat kedatangan Belanda ke bangsa-bangsa jajahannya, katakanlah Indonesia asumsi penjelasan Belandasentrisnya adalah mereka datang adalah dengan membawa sebuah peradaban atau sebuah kemajuan dan modrenisme, sedangkan jika melihat dari kaca-mata Indonesiasentris kita tidak melihat sama sekali kemanusiaan yang dihadirkan oleh pihak Belanda. Kemuduran dari pengetahuan dan sumberdaya alam di Indonesia ini adalah berkat kolonialisme yang di ciptakan Bangsa Belanda, kecuali kelompok kelompok yang berwawasan sempit seperti juga melekat pada konstruksi sejarah yang ingin digantikan, ketika dendam sejarah, kepentingan politik dan kepicikan perspektip menutup arti penting penguasaan metodologi. Maka bukan meng-ada jika dikatakan bahwa sebagian besar para pengritik itu sebenarnya hanya memproduksi cara berfikir historiografi yang sama dengan apa yang mereka kritik yakni historiografi kolonial.

b)      Historiografi Nasional
Penulisan sejarah Nasional adalah bentuk dari histroriografi modren yang menjadi reaksi terhadap hampir seluruh negara-negara jajahan yang berhasil keluar dari belenggu penjajahan dan penindasan bangsa asing. Reaksi ini muncul akibat kebangkitan kesadaran atas sejarah bangsanya sendiri. Sejarah yang gilang-gemilang sebelum kedatangan bangsa asing di tanah air mereka. Sebagai contoh, sartono menjelaskan Setelah dirasakan historiografi kolonial tidak relevan lagi dengan cerita dengan masa-lampau bangsa Indonesia, maka pemikiran baik sebelum maupun sesudah Seminar Sejarah Nasional I di Yogyakarta pada akhir tahun 1957 telah berhasil menerobos langkah kolonial dari sejarh Indonesia serta mengganti pandangna Eropasentris dengan yang Indonesiasentris. Dalam penuisan sejarah yang indosesia sentris seharusnya memuat kedidupan sehari-sehariseperti contoh sejarah petani karya sartono k. karena penulisan sejarah indonesia sentris cenderung hanya memuat aktifitas politik.

KESIMPULAN


Dalam perkembangan historiografi pada akhirnya kita kan melihat bentuk bentuk atau corak corak yang mempunyai cirinya tersendiri. Ketika ilmu pengetahuan belum matang kita mengenal apa yang kemudian diistilahkan dengan historiografi tradisional. Penjelasan sejarah pada masa ini masih sangat dilingkupi aliran mistisisme, hegemoni dewa dewa dari lama jauh masih dijadikan poros dari perkembangan sejarah umat manusia di muka bumi ini.

Cara penjelasan sejarah yang masih rentan dari sebuah kebenaran sejarah masih sangat melingkupi corak historiografi tradisional, tradisi lisan yang dikembangkan oleh masyarakat desa menajadi sampel dari rentannya  perubahan informasi dari sebuah peristiwa sejarah yang diceritakan secara turun menurun.

Selain corak tradisional yang masih sangat rentan itu, dekade kemajuan ilmu pengetahuan mendorong terciptanya suasana ke-ilmiahan yang muncul pasca Abad Kegelapan di negeri Eropa. Semangat keilmiahan itu mendorong penemuan logika ilmiah dalam penelitian sejarah yang kerap kali di campur adukakan oleh Subjetivisme yang tinggi. Perkembangan historiografi modern ini juga bisa dibaca keberadaannya ketika Herodotus mulai menulis karya sejarahnya yang berjudul Perang Parsie. Dimana dia sudah memulai penulisan sejarah dengan manusia sebagai subjek penelitian, dan sifat antroposentris ini adalah salah satu ciri dari penulisan sejarah modren.

Namun dalam perkembanganya di dunia modren ini kita juga akan menemukan fenomena peneulisan sejarah yang sangat subjektiv. Peta politik pasca penemuan kompas, dan teori yang menyatakan bahwa bumi ini bulat mendorong timbulnya kolonialisme atau penjajahan. Corak penulisan yang sangat penjajahsentri ini lah yang kemudian mewarnai carak penulisan sejarah di dunia modren ini dengan sebutan historiografi Kolonial.

            Lalu kemudian muncul juga historiografi Nasioanal sebagai reaksi dari penulisan sejarah yang sangat penjajahsentris. Semangat nasionalisme yang berkembang menajdikan penulisan ulang tentang sejarah nasional mereka berubah, dari yang penjajahsentris menjadi yang sangat pribumisentris.





DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Adam, Asvi Warman  dan Bambang P.  2005. Mengugat Historiografi Indonesia. Yogyakarta. Ombak.

Buny, J.B.  2004. Sejarah Kemerdekaan Berfikir. Jakarta Progres.

Kasdi, Aminudin. Aspek-aspek Tradisi Lokal Dalam Historiografi Islam Kajian Pendahuluan Kajian Pendahuluan DI Jawa. Hal.1147. Dalam Buku Sejarah dan Dialog Peradaban. Persembahan 70 tahun Prof.Dr. Taufik Abdulah. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. 2005

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Jakarta. Balai Pustaka.

Kartodirjo, Sartono. 1989. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia suatu alternatif. Jakarta. Gramedia.

Purwanto, Bambang. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesiasentris. Yogyakarta. Ombak.


Internet :


0 komentar:

Poskan Komentar